Sebuah kota besar yang ramai penduduk ini amatlah terkenal didunia. Kota Fellba. Aku dilahirkan dan dibesarkan disini. Aku Tremmel. Kedua orang tuaku meninggal ketika aku berusia 13 tahun karena terjadi perang antara kota Fellba dan Kota Keeston.Berperang karena perebutan wilayah yang menjadi perbatasan antara kedua kota tersebut.
Mentari pagi menyapa. Dengan sembarut warna kuning cerah dilangit biru. Tertutup awan putih bagai kapas yang terurai. Burung-burung yang menari-nari diatas membuat lebih indah pemandangan pagi ini. Seperti biasa, setiap hari kubawa gitarku. Ya! Aku adalah seorang pengamen. Profesi ini sudah kujalani semenjak 4 tahun silam. Dimana kedua orang tuaku meninggal terbunuh. Ku hampiri tiap-tiap toko dan rumah-rumah. Sen demi Sen terkumpu. Cukup untuk makan malamku seorang diri.
Tempat tinggalku dimana saja. Hahaha.. Iya! Lebih tepatnya tidak mempunyai tempat tinggal. Rumahku yang dulu telah lenyap karena pengeboman.
Malam ini kebutuhan perutku terpenuhi.Aku menyusuri jalanan kota yang sepi dan gelap. Dingin! Angin bertiup hingga kesela-sela tubuhku. Tulangku serasa membeku. Membuatku menggigil. Kunikmati perjalanan ini. Tak sengaja ku dengar orang meminta tolong di gang. Kuhampiri dengan hati-hati.
"Kumohon.. jangan ambil milikku!" Teriak sosok pria separuh baya dipojok gang. Perampokkan! Kata itu yang terlintas dipikiranku.
Tanpa menunggu lagi, kuhampiri mereka dan kupukul leher perampok itu dari belakang dengan gitarku. Ia tergeletak beberapa saat dan terbangun langsung pergi meninggalkan aku dan pria yang akan dirampoknya. Tak lama, kutinggalkan pria itu sendirian. Ia mengejarku. Dan berhasil menepuk bahu kananku. Kuhentikan langkahku yang cepat ini. "Terimakasih,Nak. Siapakah nama orang yang telah menolongku?" Aku diam sejenak. "Tremmel." Jawabku. "Maukah engkau menemaniku minum secangkir teh hangat diwarung makan seberang sana ?" Aku tak menjawab. "Oh, tenang saja! Aku yang akan membayarnya!" Ajaknya. Ia berjalan kearah warung makan diseberang jalan dan kuikuti dia dari belakang.
"Aku Tuan Crowe Apa pekerjaanmu,Trem?" Kami berbincang-bincang sambil meminum secangkir teh hangat dan ditemani biskuit cokelat yang renyah. Setelah kami puas dengan obrolan kami, Tuan Crowe memberi kertas yang tertuliskan sebuah alamat. "Datanglah besok saat matahari tenggelam,Trem!" Tuan Crowe langsung pergi berjalan kearah utara.
Esoknya ketika matahari tenggelam, kuhampiri alamat tersebut. Kuhentikan langkahku didepan sebuah rumah yang sangat besar. Apakah benar ini alamatnya? Kutanya kepada penjaga. Dan ternyata benar. Aku berjalan kedalamnya kearah ruang tamu. Sungguh megah sekali rumah ini.
"Sudah datang rupanya!" Tuan Crowe keluar dari ruang tengah. "Silahkan duduk!"
"Aku memanggilmu kemari karena ingin mengajakmu bekerjasama. Aku seorang produser musik di kota ini. Jadi aku akan membuat hidupmu lebih bahagia. Kau akan bernyanyi di malam perayaan kembang api. Dan kau akan tinggal dirumah ini selamanya. Kau tak perlu lagi menyusuri tiap-tiap toko dan rumah-rumah di sepanjang jalan. Aku sangat berterimakasih karena engkau telah menolongku. Bagaimana?Setuju?" Tawaran yang menggiurkan bukan? Namun aku tak semudah itu mengatakan iya kepadanya. "Maaf Tuan Crowe. Aku setuju akan bernyanyi dimalam perayaan kembang api. Tapi aku akan tetap menjadi diriku sendiri. Dengan ucapan terimakasih-mu saja itu sudah cukup Tuan. Terimakasih telah memberi tawaran yang menyenangkan. Tapi aku sangat senang menjadi seorang pengamen." Jawabku.
"Haha.. Kau bercandakan,Trem?" Kugelengkan kepala.
Saat malam perayaan kembang api aku bernyanyi diatas panggung yang sangat megah. Kuterima tawaran Tuan Crowe ini. Namun kutolak yang lain. Akhirnya aku dibuatkan rumah yang cukup bagus ditengah kota. Aku tetap menjadi seorang pengamen dan bernyanyi dipanggung megah ketika aku diundang untuk mengisi sebuah acara. Bukankah menjadi diri sendiri merupakan kebahagiaan yang mahal harganya? Dan kebahagiaan dari hal-hal yang kecil yang kita nikmati menjadi kebahagiaan yang besar.